Sabtu, 09 Maret 2019

Literasi Sabtu

Selamat pagi semuanya .... 
Pagi pagi pagi, luar biasa !
SD 1 jaya jaya jaya !!
Bisa!!!!

Pagi ini Sabtu 9 Maret 2019 kegiatan SDN 001 Tanjung Selor adalah Membaca Cerita atau Mendongeng.
Nah, hari ini giliran kelas 4B wali kelasnya Pak H. Usman, S.Pd dan siswa yang terpilih adalah Geovanny 'Kutu P 
Hari ini Geovanny akan membawakan cerita yang berjudul Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Tapi, sebelum Geovanny membacakan cerita seperti biasanya kami melakukan Pembiasaan yaitu 
Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Membacakan teks Pancasila 
Membacakan Visi misi SDN 001 Tanjung Selor 
Salam Literasi 1 dan Literasi 2 
Salam PPK 
Tepuk PPK 
Salam SRA 
Tepuk Hak Anak 











Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Cerita Rakyat Kalimantan Utara
Kampung Melanti terletak di Hulu Dusun. Di kampung itu hiduplah sepasang suami istri. Keduanya adalah Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma.
Sepasang suami istri itu telah lama berumahtangga. Usia keduanya telah tua. Namun, mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Keduanya terus memohon kepada Tuhan agar dikaruniai keturunan. Mereka tetap yakin, Tuhan akan mengabulkan doa dan permohonan mereka. Mereka sangat yakin, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Suatu ketika keadaan alam mendadak berubah memburuk, seperti tidak lagi bersahabat dengan manusia dan hewan. Hujan turun sangat deras. Tujuh hari tujuh malam hujan tidak juga kunjung reda. Kilat berkejap-kerjap disusul petir terdengar menggemuruh, terus susul-menyusul. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa atap yang tidak terikat kuat-kuat. Seluruh warga Kampung Melanti dicekam ketakutan. Mereka tidak berani keluar rumah. Mereka sangat khawatir, jika keadaan alam terus memburuk, mereka akan semakin kesulitan. Mereka tidak bisa mencari makanan. Bahkan, persediaan kayu bakar untuk memasak mereka semakin menipis.
Pada hari ketujuh, Babu Jaruma berkata pada suaminya, persediaan kayu bakar mereka telah habis. “Aku tidak lagi bisa memasak,” katanya dengan wajah bersedih.
Petinggi Huiu Dusun kebingungan mencari kayu bakar. Seketika ia menatap salah satu kayu kasau pada atap rumahnya, ia pun bergegas mengambilnya. Dijadikannya kayu itu untuk kayu bakar. Jika cuaca telah membaik, ia akan menggantinya.
Petinggi Hulu Dusun membelah kayu itu. Mendadak ia melihat seekor ulat kecil di dalam kayu. Ulat itu terlihat sangat lemah, namun lucu ketika menggeliat-geliatkan tubuh. Kedua matanya yang sangat kecil memandang Petinggi Hulu Dusun. Meski tidak bisa berbicara, ia seperti meminta agar dirinya dipelihara Petinggi Hulu Dusun.
Petinggi Hulu Dusun seperti bisa menangkap pesan itu. Ia lalu mengambil ulat kecil itu dan berniat memeliharanya.
Keajaiban terjadi. Seketika Petinggi Hulu Dusun mengambil ulat kecil itu, mendadak cuaca kembali nyaman seperti semula. Hujan deras langsung berhenti, langit cerah, kilat dan petir menghilang, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Matahari yang terhalang awan tebal selama tujuh hari kembali menampakkan diri. Sinar hangatnya menerangi dan menghangati siapa pun juga.
Warga Kampung Melanti bergembira. Mereka bersyukur dan merasa lega. Kegiatan kehidupan mereka kembali dapat mereka lanjutkan.
Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma memelihara dan merawat ulat kecil itu dengan baik, setiap hari mereka memberinya makanan berupa daun-daun segar untuk ulat kecil. Mereka juga menjaga ulat kecil itu dari pemangsa.

Waktu berlalu. Ulat kecil itu telah membesar tubuhnya. Semakin hari semakin membesar tubuhnya hingga akhirnya sangat besar. Ulat kecil itu berubah menjadi seekor naga setelahjiesar!
Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma sama sekali tidak menyangka, ulat kecil yang mereka pelihara itu ternyata seekor naga.
Lantas, apa yang harus mereka lakukan?
Petinggi Hulu Dusun yang kebingungan akhirnya mendapat jawaban. Ketika ia tertidur, ia bermimpi. Dalam impiannya ia bertemu seorang gadis yang sangat cantik wajahnya.
“Siapa engkau ini, wahai gadis cantik?” tanya Petinggi Hulu Dusun.
“Aku putrimu, Ayah.”
“Putriku?”
Gadis cantik itu tersenyum. “Ayah, aku adalah jelmaan naga yang telah engkau rawat.”
Petinggi Hulu Dusun terkejut mendengar pengakuan gadis cantik itu.
“Ayah,” kata gadis cantikjelmaan naga itu lagi, “janganlah Ayah takut dengan Ananda. Begitu pula dengan warga kampung. Namun demikian, Ananda harus pergi. Tolong buatkan tangga agar Ananda dapat meluncur ke bawah.”
Setelah berujar, gadis cantik itu pun menghilang. Petinggi Hulu Dusun terbangun dari tidurnya.
Keesokan harinya Petinggi Hulu Dusun membuat tangga seperti pesan gadis cantikjelmaan naga dalam impiannya. Ia membuat tangga itu dari bambu. Naga besar itu bergerak menuju tangga setelah tangga selesai dibuat. Mendadak ia menghentikan langkah dan berujar perlahan kepada Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma, “Wahai Ayah dan Ibunda, bakarlah wijen hitam. Lumurilah sekujur tubuh Ananda dengan beras kuning.”
Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma menganggukkan kepala mereka. Keduanya melaksanakan pesan naga besar. Petinggi Hulu Dusun membakar wijen hitam. Ia dan istrinya lalu melumuri sekujur tubuh naga itu dengan beras kuning.
“Setelah Ananda tiba di tanah, ikutlah kemana pun Ananda merayap,” lanjut naga besar berpesan. “Begitu pun ketika Ananda telah merayap memasuki sungai Mahakam, tetaplah mengikuti Ananda. Ikutilah buih yang muncul di permukaan sungai Mahakam kemudian.”
Naga besar itu tiba di tanah dan mulai merayap menuju sungai Mahakam. Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma mengikuti. Ketika naga besar memasuki sungai Mahakam, Petinggi Hulu Dusun segera mendayung sampan untuk dapat terus mengikuti.
Sang naga berenang ke hulu dan hilir sungai Mahakam. Berturut-turut ia berenang sebanyak tujuh kali. Setelah itu, sang naga besar menuju Tepian Batu. Ia berenang ke arah kiri sebanyak tiga kali dan ke kanan juga sebanyak tiga kali. Sang naga besar akhirnya menyelam. Petinggi Hulu Dusun dan istrinya terus mengikuti gerakan berenang sang naga besar.

Seketika naga besar menyelam, cuaca yang semula cerah berubah menjadi menakutkan. Angin topan datang, menderu-deru. Petir menggelegar sambung-menyambung. Air sungai Mahakam bergolak-golak seperti tengah mendidih. Sampan yang dinaiki Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma terombang-ambing terkena gelombang air sungai Mahakam. Dengan sekuat tenaga Petinggi Hulu Dusun mengayuh hingga sampan akhirnya dapat menepi.
Beruntung, cuaca menakutkan itu tidak berlanjut. Keadaan kembali tenang seperti semula. Air sungai Mahakam tidak lagi berombak, angin topan menghilang, petir tak lagi terdengar. Cuaca kembali cerah. Matahari kembali bersinar, meski sinarnya diiringi jatuhnya gerimis.
Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat permukaan sungai tempat naga besar itu menyelam. Mereka mencari-cari di mana naga besar itu berada.
Mendadak Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi buih. Buih terus meninggi dan di atas buih itu terlihat pelangi indah berwarna-warni.
“Lihat! Buih itu bercahaya!” seru Babu Jaruma sambil menunjuk.
Petinggi Hulu Dusun membenarkan. Cahaya yang memancari dari buih yang meninggi itu berkilau-kilauan menyilaukan matanya saat menatapnya.
Petinggi Hulu Dusun kembali mengayuh sampan. Ia dan Babu Jaruma mendekati buih meninggi yang bercahaya itu. Terperanjatlah keduanya saat melihat apa yang terdapat dalam buih bercahaya. Seorang bayi perempuan! Bayi perempuan itu berbaring di atas gong, sementara gong ij&rdijunjung naga besar.
Gong beriSi bayi perempuan terus meninggi. Tidak hanya naga besar rupanya yang menjunjung gong itu, melainkan juga seekor hewan yang sangat aneh. Hewan itu bertubuh lembu, namun berkepala singa. Pada kepalanya terdapat mahkota indah terbuat dari emas. Ia juga memiliki belalai laksana gajah, dengan dua gading panjang yang terlihat tajam pada ujungnya. Keanehan lainnya, hewan itu mempunyai sepasang sayap seperti sayap burung garuda, dan tubuhnya bersisik laksana ikan.
Hewan aneh itu adalah Lembuswana!
Petinggi Hulu Dusun dan istrinya sangat ketakutan melihat kemunculan Lembuswana. Petinggi Hulu Dusun bergegas mengayuh sampannya untuk menjauh. Sebentar kemudian ia telah menepikan sampannya.

Naga besar dan Lembuswana seperti hendak mengantarkan gong beriSi bayi perempuan saja. Setelah gong beriSi bayi perempuan itu tiba di permukaan sungai Mahakam, keduanya langsung kembali menyelam.
Gong beriSi bayi perempuan terapung-apung di atas permukaan sungai Mahakam. Petinggi Hulu Dusun kembali mengayuh sampannya mendekati gong beriSi bayi perempuan itu. Ia mengambil gong dan Babu Jaruma bergegas mendekap bayi perempuan itu. Petinggi Hulu Dusun dan istrinya bergegas kembali pulang.
Dengan cara yang aneh lagi luar biasa, permohonan Petinggi Hulu Dusun dan istrinya telah dikabulkan Tuhan. Petinggi Hulu Dusun lalu memberi nama pada bayi perempuan itu Putri Karang Melenu.
Bayi perempuan itu terus tumbuh membesar dalam perawatan dan asuhan Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma. Semakin bertambah besar semakin terlihat kecantikannya. Ketika telah dewasa usianya, kecantikan wajahnya sungguh mempesona. Tak terbilang pemuda yang ingin menyuntingnya. Namun, Putri Karang Melenu belum menjatuhkan pilihannya. Sang Putri akhirnya menerima pinangan seorang pemuda sakti mandraguna. Aji Batara Agung Dewa Sakti namanya. Keduanya pun menikah. Aji Batara Agung Dewa Sakti kemudian mendirikan Kerajaan Kutai Kertanegara dan bertakhta menjadi raja pertama kerajaan itu.

 TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN UNTUK MENGABULKAN PERMOHONAN HAMBA-HAMBA-NYA KEPADA-NYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar