Selamat pagi semuanya ....
Pagi pagi pagi, luar biasa !
SD 1 jaya jaya jaya !!
Bisa!!!!
Pagi ini Sabtu 9 Maret 2019 kegiatan SDN 001 Tanjung Selor adalah Membaca Cerita atau Mendongeng.
Nah, hari ini giliran kelas 4B wali kelasnya Pak H. Usman, S.Pd dan siswa yang terpilih adalah Geovanny 'Kutu P
Hari ini Geovanny akan membawakan cerita yang berjudul Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Tapi, sebelum Geovanny membacakan cerita seperti biasanya kami melakukan Pembiasaan yaitu
Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Membacakan teks Pancasila
Membacakan Visi misi SDN 001 Tanjung Selor
Salam Literasi 1 dan Literasi 2
Salam PPK
Tepuk PPK
Salam SRA
Tepuk Hak Anak
Legenda
Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Cerita
Rakyat Kalimantan Utara
Kampung
Melanti terletak di Hulu Dusun. Di kampung itu hiduplah sepasang suami istri.
Keduanya adalah Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma.
Sepasang
suami istri itu telah lama berumahtangga. Usia keduanya telah tua. Namun,
mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Keduanya terus memohon kepada Tuhan
agar dikaruniai keturunan. Mereka tetap yakin, Tuhan akan mengabulkan doa dan
permohonan mereka. Mereka sangat yakin, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Suatu
ketika keadaan alam mendadak berubah memburuk, seperti tidak lagi bersahabat
dengan manusia dan hewan. Hujan turun sangat deras. Tujuh hari tujuh malam
hujan tidak juga kunjung reda. Kilat berkejap-kerjap disusul petir terdengar
menggemuruh, terus susul-menyusul. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan
beberapa atap yang tidak terikat kuat-kuat. Seluruh warga Kampung Melanti
dicekam ketakutan. Mereka tidak berani keluar rumah. Mereka sangat khawatir,
jika keadaan alam terus memburuk, mereka akan semakin kesulitan. Mereka tidak
bisa mencari makanan. Bahkan, persediaan kayu bakar untuk memasak mereka
semakin menipis.
Pada
hari ketujuh, Babu Jaruma berkata pada suaminya, persediaan kayu bakar mereka
telah habis. “Aku tidak lagi bisa memasak,” katanya dengan wajah bersedih.
Petinggi
Huiu Dusun kebingungan mencari kayu bakar. Seketika ia menatap salah satu kayu
kasau pada atap rumahnya, ia pun bergegas mengambilnya. Dijadikannya kayu itu untuk
kayu bakar. Jika cuaca telah membaik, ia akan menggantinya.
Petinggi
Hulu Dusun membelah kayu itu. Mendadak ia melihat seekor ulat kecil di dalam
kayu. Ulat itu terlihat sangat lemah, namun lucu ketika menggeliat-geliatkan
tubuh. Kedua matanya yang sangat kecil memandang Petinggi Hulu Dusun. Meski
tidak bisa berbicara, ia seperti meminta agar dirinya dipelihara Petinggi Hulu
Dusun.
Petinggi
Hulu Dusun seperti bisa menangkap pesan itu. Ia lalu mengambil ulat kecil itu
dan berniat memeliharanya.
Keajaiban
terjadi. Seketika Petinggi Hulu Dusun mengambil ulat kecil itu, mendadak cuaca
kembali nyaman seperti semula. Hujan deras langsung berhenti, langit cerah,
kilat dan petir menghilang, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Matahari yang
terhalang awan tebal selama tujuh hari kembali menampakkan diri. Sinar
hangatnya menerangi dan menghangati siapa pun juga.
Warga
Kampung Melanti bergembira. Mereka bersyukur dan merasa lega. Kegiatan
kehidupan mereka kembali dapat mereka lanjutkan.
Petinggi
Hulu Dusun dan Babu Jaruma memelihara dan merawat ulat kecil itu dengan baik,
setiap hari mereka memberinya makanan berupa daun-daun segar untuk ulat kecil.
Mereka juga menjaga ulat kecil itu dari pemangsa.
Waktu
berlalu. Ulat kecil itu telah membesar tubuhnya. Semakin hari semakin membesar
tubuhnya hingga akhirnya sangat besar. Ulat kecil itu berubah menjadi seekor
naga setelahjiesar!
Petinggi
Hulu Dusun dan Babu Jaruma sama sekali tidak menyangka, ulat kecil yang mereka
pelihara itu ternyata seekor naga.
Lantas,
apa yang harus mereka lakukan?
Petinggi
Hulu Dusun yang kebingungan akhirnya mendapat jawaban. Ketika ia tertidur, ia
bermimpi. Dalam impiannya ia bertemu seorang gadis yang sangat cantik wajahnya.
“Siapa
engkau ini, wahai gadis cantik?” tanya Petinggi Hulu Dusun.
“Aku
putrimu, Ayah.”
“Putriku?”
Gadis
cantik itu tersenyum. “Ayah, aku adalah jelmaan naga yang telah engkau rawat.”
Petinggi
Hulu Dusun terkejut mendengar pengakuan gadis cantik itu.
“Ayah,”
kata gadis cantikjelmaan naga itu lagi, “janganlah Ayah takut dengan Ananda.
Begitu pula dengan warga kampung. Namun demikian, Ananda harus pergi. Tolong
buatkan tangga agar Ananda dapat meluncur ke bawah.”
Setelah
berujar, gadis cantik itu pun menghilang. Petinggi Hulu Dusun terbangun dari
tidurnya.
Keesokan
harinya Petinggi Hulu Dusun membuat tangga seperti pesan gadis cantikjelmaan
naga dalam impiannya. Ia membuat tangga itu dari bambu. Naga besar itu bergerak
menuju tangga setelah tangga selesai dibuat. Mendadak ia menghentikan langkah
dan berujar perlahan kepada Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma, “Wahai Ayah
dan Ibunda, bakarlah wijen hitam. Lumurilah sekujur tubuh Ananda dengan beras
kuning.”
Petinggi
Hulu Dusun dan Babu Jaruma menganggukkan kepala mereka. Keduanya melaksanakan
pesan naga besar. Petinggi Hulu Dusun membakar wijen hitam. Ia dan istrinya
lalu melumuri sekujur tubuh naga itu dengan beras kuning.
“Setelah
Ananda tiba di tanah, ikutlah kemana pun Ananda merayap,” lanjut naga besar
berpesan. “Begitu pun ketika Ananda telah merayap memasuki sungai Mahakam,
tetaplah mengikuti Ananda. Ikutilah buih yang muncul di permukaan sungai
Mahakam kemudian.”
Naga
besar itu tiba di tanah dan mulai merayap menuju sungai Mahakam. Petinggi Hulu
Dusun dan Babu Jaruma mengikuti. Ketika naga besar memasuki sungai Mahakam,
Petinggi Hulu Dusun segera mendayung sampan untuk dapat terus mengikuti.
Sang
naga berenang ke hulu dan hilir sungai Mahakam. Berturut-turut ia berenang
sebanyak tujuh kali. Setelah itu, sang naga besar menuju Tepian Batu. Ia
berenang ke arah kiri sebanyak tiga kali dan ke kanan juga sebanyak tiga kali.
Sang naga besar akhirnya menyelam. Petinggi Hulu Dusun dan istrinya terus
mengikuti gerakan berenang sang naga besar.
Seketika
naga besar menyelam, cuaca yang semula cerah berubah menjadi menakutkan. Angin
topan datang, menderu-deru. Petir menggelegar sambung-menyambung. Air sungai
Mahakam bergolak-golak seperti tengah mendidih. Sampan yang dinaiki Petinggi
Hulu Dusun dan Babu Jaruma terombang-ambing terkena gelombang air sungai
Mahakam. Dengan sekuat tenaga Petinggi Hulu Dusun mengayuh hingga sampan
akhirnya dapat menepi.
Beruntung,
cuaca menakutkan itu tidak berlanjut. Keadaan kembali tenang seperti semula.
Air sungai Mahakam tidak lagi berombak, angin topan menghilang, petir tak lagi
terdengar. Cuaca kembali cerah. Matahari kembali bersinar, meski sinarnya diiringi
jatuhnya gerimis.
Petinggi
Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat permukaan sungai tempat naga besar itu menyelam.
Mereka mencari-cari di mana naga besar itu berada.
Mendadak
Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi
buih. Buih terus meninggi dan di atas buih itu terlihat pelangi indah
berwarna-warni.
“Lihat!
Buih itu bercahaya!” seru Babu Jaruma sambil menunjuk.
Petinggi
Hulu Dusun membenarkan. Cahaya yang memancari dari buih yang meninggi itu
berkilau-kilauan menyilaukan matanya saat menatapnya.
Petinggi
Hulu Dusun kembali mengayuh sampan. Ia dan Babu Jaruma mendekati buih meninggi
yang bercahaya itu. Terperanjatlah keduanya saat melihat apa yang terdapat
dalam buih bercahaya. Seorang bayi perempuan! Bayi perempuan itu berbaring di
atas gong, sementara gong ij&rdijunjung naga besar.
Gong
beriSi bayi perempuan terus meninggi. Tidak hanya naga besar rupanya yang
menjunjung gong itu, melainkan juga seekor hewan yang sangat aneh. Hewan itu
bertubuh lembu, namun berkepala singa. Pada kepalanya terdapat mahkota indah
terbuat dari emas. Ia juga memiliki belalai laksana gajah, dengan dua gading
panjang yang terlihat tajam pada ujungnya. Keanehan lainnya, hewan itu
mempunyai sepasang sayap seperti sayap burung garuda, dan tubuhnya bersisik
laksana ikan.
Hewan
aneh itu adalah Lembuswana!
Petinggi
Hulu Dusun dan istrinya sangat ketakutan melihat kemunculan Lembuswana.
Petinggi Hulu Dusun bergegas mengayuh sampannya untuk menjauh. Sebentar
kemudian ia telah menepikan sampannya.
Naga
besar dan Lembuswana seperti hendak mengantarkan gong beriSi bayi perempuan
saja. Setelah gong beriSi bayi perempuan itu tiba di permukaan sungai Mahakam,
keduanya langsung kembali menyelam.
Gong
beriSi bayi perempuan terapung-apung di atas permukaan sungai Mahakam. Petinggi
Hulu Dusun kembali mengayuh sampannya mendekati gong beriSi bayi perempuan itu.
Ia mengambil gong dan Babu Jaruma bergegas mendekap bayi perempuan itu.
Petinggi Hulu Dusun dan istrinya bergegas kembali pulang.
Dengan
cara yang aneh lagi luar biasa, permohonan Petinggi Hulu Dusun dan istrinya
telah dikabulkan Tuhan. Petinggi Hulu Dusun lalu memberi nama pada bayi perempuan
itu Putri Karang Melenu.
Bayi
perempuan itu terus tumbuh membesar dalam perawatan dan asuhan Petinggi Hulu
Dusun dan Babu Jaruma. Semakin bertambah besar semakin terlihat kecantikannya.
Ketika telah dewasa usianya, kecantikan wajahnya sungguh mempesona. Tak
terbilang pemuda yang ingin menyuntingnya. Namun, Putri Karang Melenu belum
menjatuhkan pilihannya. Sang Putri akhirnya menerima pinangan seorang pemuda
sakti mandraguna. Aji Batara Agung Dewa Sakti namanya. Keduanya pun menikah.
Aji Batara Agung Dewa Sakti kemudian mendirikan Kerajaan Kutai Kertanegara dan
bertakhta menjadi raja pertama kerajaan itu.
TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN UNTUK
MENGABULKAN PERMOHONAN HAMBA-HAMBA-NYA KEPADA-NYA






Tidak ada komentar:
Posting Komentar